Antonio Conte, Sosok Jenius Bermental Juara

Barangkali, 5-6 tahun yang lalu masih jarang sekali fans bola mengenal nama Antonio Conte. Keputusan yang dibuat oleh pihak Juventus mengangkatnya menjadi pelatih menggantikan Luigi del Neri membuat banyak pihak menyerngitkan dahi. Bagaimana tidak, sebelumnya Conte hanya menangani klub sekelas Sienna dan Bari di Serie B. Namun Juventus saat itu tidak salah pilih. Mereka telah memilih sosok jenius dengan mentalitas juara.

317a4b4200000578-3460945-image-a-3_1456265493506
Antonio Conte

Di musim pertamanya untuk Juventus, hal yang ia langsung perbaiki tentu saja mentalitas pemain. Sejak kasus Calciopoli menimpa Juventus, tim ini seperti kehilangan arah. Pemain bintang pun pergi satu per satu meninggalkan Olimpico Turin, menyisakan beberapa nama seperti Del Piero dan Gianluigi Buffon. Hal itu membuat Conte memanggil sosok senior bermental juara lainnya, Pirlo untuk membangkitkan mental pemain. Conte juga tak akan ragu untuk meneriaki para pemainnya dipinggir lapangan, walau hanya untuk menyuruh tetap konsentrasi.

Skema permainan pun banyak diubah oleh Conte. Yang awalnya menggunakan formasi 4-2-4, Juve bertransformasi menjadi tim mengerikkan dengan 3-5-2. Kejelian Conte dalam mengambil pemain di bursa transfer membuat Juventus mendapat banyak amunisi baru. Carlos Teves, Pirlo, Vidal, bahkan Pogba didatangkannya dengan mahar kurang dari 10 juta euro. Hal ini membuatnya mampu mempersembahkan 3 gelar Scudetto di 3 tahun pertamanya. Dan lebih dari itu, ia telah mengembalikan mentalitas Juventus. Ia pun akhirnya keluar dari Juventus karena kebijakan transfer pemain.

_74637913_antonio_conte_andrea_pirlo_getty
Antonio Conte bersama Juventus

Keluar dari Juventus, timnas Italia ternyata jatuh cinta dengan Conte. Conte pun ditunjuk untuk menangani timnas Italia untuk Euro 2016. Sama seperti di Juventus, ia tanamkan mentalitas juara. Ia buang pemain-pemain bengal seperti Balotelli dan Cassano. Conte juga mengganti skema permainan menjadi 3-5-2, formasi kesukaannya dengan menggunakan 3 bek tengah.Skema ini berjalan sangat baik di Euro 2016. Dengan pertahanan gerendel atau Cattenacio ala Italia dipadu dengan strategi serangan balik cepat dari Conte, Italia mampu berbicara banyak.

Mereka mampu membungkam Belgia 2-0, menaklukkan Swedia 1-0, hingga mempermalukan juara bertahan saat itu, Spanyol dengan skor 2-0. Bahkan mereka bisa saja berbicara lebih banyak di Piala Eropa 2016 andai mereka lebih beruntung. Mereka hanya kalah adu penalti dari Jerman. Dan dengan dikalahkannya Italia oleh Jerman, berakhirlah petualangan Conte untuk Italia.

pjimage_7
Conte hantarkan Italia sampai perempat final Piala Eropa 2016

Lepas dari Italia, ternyata Chelsea terus memonitor Conte. Conte pun segera ditunjuk tim berjuluk The Blues ini untuk memperbaiki prestasi musim sebelumnya. Berbeda dengan di Juventus, Conte lebih memiliki kebebasan dalam kebijakan transfernya. Ia datangkan pemain sekelas N’golo Kante, David Luiz, dan Marcos Alonso ke Stamford Bridge. Ia tanamkan kembali mentalitas juara ke skuad Chelsea.

1894335-39882540-2560-1440
Conte diperkenalkan oleh Chelsea

Di awal musimnya bersama Chelsea, ia masih menggunakan formasi warisan dari Mourinho. Awalnya formasi ini berjalan cukup baik, akan tetapi formasi ini mulai mampu diantisipasi oleh klub lain. Puncaknya adalah ketika Chelsea kalah 3-0 dari Arsenal. Kekalahan memalukan itu cukup bagi Conte untuk membuang formasi Mourinho dan membangun formasinya sendiri. Seperti biasa, ia gunakan formasi 3 bek kesukaannya. 3-4-3 pun menjadi opsi baru bagi Conte.

Di sini, kejeniusan Conte mulai terlihat. Conte mulai memainkan Azpilicueta sebagai bek tengah, posisi yang belum pernah ia tempati sebelumnya. Conte juga mencadangkan pemain sekelas Fabregas yang tak sesuai dengan ekspektasinya. Di bawah kepemimpinannya, emosi Diego Costa mampu ia redam. Potensi Pedro Rodriguez dan Victor Moses pun ia orbitkan di starting line up. Dan Eden Hazard tumbuh menjadi monster mengerikkan lagi.

Hasilnya? Menakjubkan. Dari 8 laga terakhirnya di BPL sejak menggunakan 3-4-3, ia sapu bersih seluruh kemenangan. MU digasak 4-0, Everton dibantai secara sadis 5-0, juara bertahan Leicester City mereka gebuk 3-0, hingga Sabtu kemarin mereka permalukan Manchester City 3-1. Pucuk klasemen pun menjadi ganjaran bagi kejeniusan Conte.

Jika Conte dan Chelsea terus mempertahankan performa apiknya seperti ini, bukan tidak mungkin Chelsea akan kembali menjadi penguasa Inggris. Akan tetapi, liga masih panjang. Rintangan akan terus berdatangan. Tidak ada yang tahu siapa yang bakal menjuarai BPL tahun ini. Akan tetapi, dengan kejeniusan Conte tentu saja Chelsea bisa berharap banyak tahun ini. Keep The Blue Flag Flying High, Conte!!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: